Papua Barat

Provinsi Papua Barat, Indonesia, terletak di titik paling barat dari pulau Nugini atau Papua. Provinsi ini merupakan rumah bagi keanekaragaman ekosistem yang sangat tinggi: dari rangkaian pegunungan seperti Pegunungan Arfak hingga terumbu karang yang beraneka ragam di kepulauan Raja Ampat. Papua Barat adalah provinsi terbesar kelima di Indonesia dengan wilayah seluas 140.375 km² dan populasi sebanyak 877.437 jiwa. Penduduk asli Melanesia-Papua berjumlah lebih dari setengah penduduk Papua Barat sementara kelompok non-Papua terbesar adalah orang Jawa yang jumlahnya mencapai 14,8 persen dari total penduduk provinsi ini. Provinsi ini berada di posisi terbawah ketiga dalam hal Produk Daerah Bruto (pada paritas daya beli) dan menempati posisi terbawah kedua dalam hal Indeks Pembangunan Manusia Indonesia (untuk tingkat provinsi).

Pala dari Papua Barat

Kerja INOBU di Papua Barat difokuskan pada Kabupaten Fakfak. Kabupaten Fakfak meliputi area seluas 11.036 km² dan memiliki populasi sebanyak 77.112 jiwa (sensus tahun 2014). Kabupaten ini terkenal akan varietas pala (Myristica argentea Warb) yang unik, sebuah komoditas yang telah ditumbuhkan secara alami di tanah masyarakat adat di Fakfak selama beberapa generasi. Pala merupakan komoditas utama yang dibudidayakan oleh masyarakat adat Fakfak sekaligus menjadi mata pencaharian utama mereka. Oleh karena itu, komoditas tersebut berkaitan erat dengan hak-hak masyarakat adat. Pala melambangkan hubungan antara masyarakat adat dengan tanah mereka. Masyarakat dilarang oleh kepercayaan tradisional mereka untuk menebang pohon, namun mereka masih diperbolehkan untuk memanen buahnya.

Relevansi pala Papua dalam upaya mempromosikan bentang alam yang berkelanjutan dan merata di Indonesia tidak dapat diabaikan. Indonesia adalah penghasil pala terbesar di dunia, dengan delapan persen di antaranya berasal dari Kabupaten Fakfak saja. (Provinsi lain yang menanam pala meliputi Jawa, Aceh, Sumatera Utara dan Sulawesi). Di Fakfak, pala secara alamat tumbuh di bawah kanopi hutan. Sebagai tanaman masyarakat adat dan sumber penghidupan utama mereka, pala memainkan peran kunci dalam konservasi dan pengelolaan hutan adat di kabupaten tersebut.

Kerja Kami di Papua Barat

Kerja INOBU di Papua Barat difokuskan untuk memahami bagaimana tekanan terhadap hutan dapat dikurangi melalui pencarian tata cara penghidupan alternatif yang lebih berkelanjutan. Menemukan alternatif ini menjadi sangat penting setelah keluarnya Putusan Mahkamah Konstitusi RI no. 35 tahun 2012 yang memungkinkan lahan milik adat dipisahkan dari kawasan hutan nasional. Di Papua Barat, kebutuhan untuk menemukan penghidupan alternatif yang berkelanjutan dipandang lebih mendesak karena semua hutan telah diklaim oleh kelompok masyarakat adat. Oleh karena itu, INOBU berusaha untuk mempelajari bagaimana pelaksanaan keputusan tersebut dapat memperbaiki mata pencaharian penduduk di pedesaan tanpa merusak hutan. Dengan mempelajari proses ini, kami mengidentifikasi berbagai penyebab kemiskinan dan degradasi lingkungan di Papua Barat dan menjalin kerja sama dengan pemerintah, masyarakat adat serta masyarakat sipil untuk mengembangkan berbagai solusi kebijakan yang inovatif. Pemerintah dan para pemangku adat di Papua Barat berkomitmen untuk menempa jalur-jalur baru untuk pembangunan ekonomi.

Pelajari program kami di Papua Barat di sini