Komunikasi Dengan Petani: Tantangan Terbesar di Lapangan

12 April, 2018. Staff Lapangan kami di Kalimantan Tengah, Dian Nur Cahya Sejati atau biasa dipanggil Dian, sudah bergabung bersama INOBU sejak September, 2015. Dian, yang pada saat ini sedang menempuh pendidikan di jurusan Agribisnis, Universitas Terbuka, pada awalnya terlibat di proyek pemetaan lahan petani sawit swadaya. Ia menghabiskan waktu dua tahun di proyek pemetaan dan semenjak Desember 2017 lalu, bergabung di proyek pendampingan petani sawit swadaya menuju sertifikasi.

Meskipun sebelumnya tidak pernah berkecimpung di dunia LSM, Dian sudah mempunyai banyak pengalaman lapangan dalam berhubungan langsung dengan masyarakat setempat. Namun, Dian baru berhubungan dengan petani sawit swadaya semenjak bergabung dengan INOBU. Proyek dimana Dian terlibat mencakup sejumlah upaya, yakni: merancang dan menguji coba berbagai intervensi untuk mendukung petani agar produktivitas pertanian mereka meningkat dan praktik pertanian mereka menjadi lebih berkelanjutan.

Dian membagikan berbagai cerita pengalaman menarik dalam berhubungan dengan petani swadaya.

Pengalaman apa yang paling berkesan untuk anda selama bekerja dengan INOBU?

Pengalaman yang paling berkesan pastinya adalah bekerja di tengah-tengah masyarakat dan petani. Terkadang, petani jarang memikirkan keselamatan diri sendiri dan belum mempunyai kesadaran yang tinggi terhadap lingkungan di sekitarnya. Ke kebun biasanya hanya memakai sandal dan mempunyai kecenderungan membuang sampah di lahan kebun (bekas herbisida, bekas pupuk, dan plastik bekas makanan). Setelah mengikuti kegiatan sertifikasi, petani mulai terbiasa menggunakan sepatu bot dan mulai membersihkan lahannya dari sampah-sampah. Lalu, yang sebelumnya terbiasa memanen buah mentah, sekarang sudah mulai paham kalau memanen buah mentah ternyata bisa merusak siklus rotasi panen dan mengurangi produktivitas sawit. Sekarang, setidaknya ketika sudah ada brondolan jatuh di sekitar pohon sawit, baru petani melakukan panen.

Saya punya cerita saat mendampingi petani sawit swadaya di Desa Lada Mandala Jaya untuk mendapatkan sertifikasi RSPO. Kami berkenalan dengan petani lokal. Sebelum mengikuti kegiatan sertifikasi, ia berkebun sawit sebagaimana masyarakat pekebun sawit pada umumnya. Beliau menanam sawit, merawat, memanen. Walaupun terkadang buah masih belum matang, tandan buah segar (TBS) nya sudah dijual ke tengkulak. Setelah mengikuti kegiatan sertifikasi RSPO dan mengikuti pelatihan-pelatihan, beliau mulai memahami bahwa sebenarnya petani tidak hanya berkebun sawit untuk menghasilkan TBS saja. Melainkan, petani berkebun harus memperhatikan keselamatan diri sendiri dan lingkungan sekitarnya, minimal di lingkungan sekitar lahan masing-masing. Petani tersebut menyadari bahwa praktik berkebun seperti ini sebenarnya sangat bermanfaat bagi petani sawit dan memandang bahwa hal ini merupakan sebuah kebutuhan yang memang harus diterapkan dalam praktik berkebun sehari-hari. Bukan hanya sebagai syarat untuk mengikuti kegiatan sertifikasi saja, tetapi karena apa yang sudah dia dapatkan dari pelatihan menunjukan bahwa semua memang bermanfaat untuk petani dan juga baik untuk lingkungan sekitar. Jika kebun dikelola dengan cara yang berkelanjutan, maka hasil nya pun akan lebih bagus. Petani tersebut berharap semoga kegiatan sertifikasi bisa mendongkrak nilai jual TBS dan semoga desa-desa lain juga bisa mengikuti program sertifikasi agar semua petani sawit swadaya sama-sama mendapatkan manfaatnya.

Pelajaran apa saja yang bisa anda tarik selama bertugas di lapangan?

Banyak sekali. Namun yang paling penting menurut saya adalah bagaimana caranya agar kami bisa meyakinkan dan mengubah pola pikir masyarakat, terlebih petani. Komunikasi dengan masyarakat merupakan tantangan yang sangat besar. Kami harus benar-benar sabar sehingga apa yang kami sampaikan bisa diterima dengan baik. Kami juga harus memberikan pemahaman sehingga mereka mengerti bahwa kegiatan yang kami lakukan itu bermanfaat untuk mereka. Biasanya, kami melakukan sosialisasi formal satu atau dua kali, namun kebanyakan kami sampaikan melalui diskusi-diskusi santai di warung kopi, pos ronda, dan setelah pertemuan kelompok tani. Melalui diskusi santai tersebut, kami bisa mendengarkan cerita, pengalaman, dan keluhan petani. Sehingga, kami pun bisa menawarkan apa yang bisa kami bantu melalui kegiatan kami. Diskusi informal ini menurut saya merupakan cara yang paling efisien untuk berkomunikasi dengan masyarakat.

Apa yang paling memprihatinkan di lapangan dan apa harapan-harapan ke depannya?

 Melalui pengalaman saya ke desa-desa selama ini, yang sangat memprihatinkan adalah habitat-habitat yang hampir terkikis hilang di sekitar desa. Seperti di daerah Seruyan, banyak sekali orangutan yang masuk sampai ke rumah-rumah penduduk. Itulah mengapa saya sangat mempunyai harapan yang tinggi dengan kegiatan sertifikasi. Dengan kegiatan sertifikasi, saya berharap kita bisa mendorong petani untuk mulai mengubah pola pikirnya. Kami mendorong petani untuk berusaha semaksimal mungkin untuk memanfaatkan dan memaksimalkan lahan yang sudah ada, memaksimalkan hasilnya, sehingga mereka sudah tidak ada pemikiran lagi untuk membuka lahan-lahan baru. Pembukaan lahan baru tersebut bisa mengakibatkan kerusakan lingkungan dan habitat-habitat di sekitarnya. Harapan lain adalah bagaimana supaya mereka tidak hanya memikirkan bagaimana mendapatkan hasil dari kebun, tetapi juga mulai memikirkan kesehatan dan keselamatan mereka pada saat berkebun, baik untuk diri sendiri dan orang lain.