Pekerjaan Kami Apa Komoditas

Komoditas

Seorang petani miskin di hutan Kalimantan, atau Borneo, memutuskan untuk mencoba sesuatu yang baru agar dapat memperbaiki kehidupannya. Bersama keluarganya, mereka mulai menebang hutan di dekat desa mereka dan menanam benih sawit yang diberikan oleh seorang pedagang lokal. Sementara itu, di Eropa, seorang pria sedang menyikat giginya tanpa sadar kalau pasta gigi yang digunakannya terbuat dari produk sawit Indonesia. Sementara itu, pada salah satu kota di Amerika Utara, kelompok aktivis lingkungan melakukan kampanye untuk menyelamatkan orangutan dengan memboikot penggunaan produk-produk sawit.

Rantai pasok komoditas yang kompleks dan global dapat membentuk alam dan masyarakat. Dimulai dari tempat komoditas itu dibudidayakan, dipanen atau diambil, hingga komoditas itu dikonsumsi dan dijual, semuanya itu melibatkan rangkaian tempat, orang dan institusi yang kompleks. Manfaat memang dapat diperoleh dari rantai pasok komoditas ini tetapi seringkali mengorbankan alam dan lingkungan. Pertanyaan muncul, bagaimana kita dapat memastikan bahwa rantai pasok komoditas tidak merugikan lingkungan? Bagaimana kita dapat memastikan bahwa manfaat dari rantai pasok komoditas dapat dinikmati bersama secara adil serta hak-hak dari masyarakat miskin dan masyarakat adat juga dihormati?

Di INOBU, fokus kami adalah mengkaji dan memahami rantai pasokkomoditas yang kompleks serta pengaruhnya terhadap alam dan masyarakat. Kami mengkaji komoditas yang dibudidayakan di darat maupun laut: mulai dari tanaman perkebunan seperti kelapa sawit dan karet sampai rumput laut dan pertambakan udang. Kami mengkaji komoditas yang dipanen: hasil hutan kayu dan non-kayu seperti rotan dan bambu sampai perikanan air tawar dan laut. Kami juga mengkaji komoditas-komoditas yang terambil dari pertambangan serta pengaruhnya terhadap budidaya dan panen komoditas pangan, bahan bakar dan serat (food, fuel, fiber). Melalui penelitian ini, kami bertanya: Siapa yang seharusnya menikmati manfaat dari komoditas dan siapa yang tidak, dan mengapa? Bagaimana lingkungan alam terpengaruh di sepanjang rantai pasok dan, bagaimana kita dapat memperbaiki rantai pasokkomoditas demi manfaat alam dan masyarakat?

Sepanjang tahun, kami mengadakan banyak acara, beberapa di antaranya terbuka bagi masyarakat umum.

icon

UU Pemerintahan Daerah yang Baru

Pada September 2014 Pemerintah mengesahkan UU Pemerintah Daerah yang baru (UUPDB), UU No 23/2014 untuk menggantikan UU Pemerintahan Daerah yang lama (UUPDL), yakni UU No 32/2004. Walaupun menarik beberapa kewenangan kembali ke pusat, namun pengaturan dalam UUPDB  sudah lebih pasti dalam hal penunjukan dan pembagian urusan Pusat-Daerah secara lebih tegas. Artikel ini ditulis untuk merangkum analisis legal yang dilakukan terhadap UUPDB dan UUPDL. Secara khusus artikel ini akan menganalisa pergeseran kewenangan dan pembagian urusan kewenangan antara Pusat, Provinsi dan Kabupaten, terutama terkait sektor berbasis lahan, antara lain kehutanan, pertanahan, pertanian dan tata ruang.

BACA SELANJUTNYA

icon

Menuju Kabupaten Kelapa Sawit yang Berkelanjutan

Pada tanggal 17 November 2015, Earth Innovation Institute (EII) menyelenggarakan acara tambahan dalam Pertemuan Tahunan ke-13 Forum Meja Bundar untuk Kelapa Sawit Berkelanjutan (RSPO) untuk mengumumkan sebuah inisiatif bersejarah di Kabupaten Seruyan. Inisiatif ini bertujuan untuk memastikan semua kelapa sawit yang diproduksi dan diolah di Kabupaten Seruyan disertifikasi sebagai produk yang berkelanjutan. Inisiatif ini juga disebut dengan sertifikasi yurisdiksi.

BACA SELANJUTNYA

icon

Transfer Fiskal Antar Pemerintahan, Konservasi Hutan dan Perubahan Iklim

Transfer fiskal antar pemerintahan (IFTs) merupakan salah satu cara yang inovatif dalam memberikan insentif kepada para pelaku publik di tingkat lokal untuk mendukung  kegiatan konservasi. Publikasi ini mendorong pembahasan mengenai metode melestarikan hutan tropis  dengan melaksanakan mekanisme penurunan deforestasi dan degradasi hutan (REDD+).

BACA SELANJUTNYA