AKAPe Bekerja untuk Masa Depan yang Lebih Baik untuk Masyarakat Adat Fakfak

1 Februari, 2018. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 17.10, dan enam orang yang berasal dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Aspirasi Kaki Abu untuk Perubahan (AKAPe) sedang beristirahat di sela-sela pelatihan. Nama “AKAPe” juga diartikan sebagai “bagaimana?” dalam bahasa lokal Sekar.

Teman-teman AKAPe merupakan mitra kami untuk program pemetaan pala di Fakfak, Papua Barat yang sudah berjalan kurang lebih 1,5 tahun. Pada tahun 2016, INOBU meluncurkan suatu program yang unik di Kabupaten Fakfak untuk mengelola hutan pala baik yang tumbuh secara alami maupun yang ditanam. Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk mendukung pengakuan hak tanah adat sambil memperbaiki budidaya pala demi keuntungan masyarakat asli Papua.

DSCN0674edit1 AKAPe Bekerja untuk Masa Depan yang Lebih Baik untuk Masyarakat Adat Fakfak

Tidak banyak orang yang mengetahui bahwa pala tidak hanya pangan, tetapi titik dimana sejarah bertemu, antara masa lalu yang pilu ketika pala menjadi salah satu rempah yang paling dicari bangsa Eropa dan memicu konflik masif dengan penduduk asli. Pada masa kini, pala yang sama mewarisi penopang ekonomi bagi petani lokal, sebagai bahan dasar untuk memproduksi berbagai macam makanan seperti sirup, sari buah, selai, manisan, permen, dan lainnya.

AKAPe mengunjungi kantor INOBU pada tanggal 16 – 18 Januari 2018 yang lalu untuk mengikuti pelatihan metode-metode penelitian gender dan feminis.

Kami berkesempatan berbincang dengan Ibu Siti Hajar Uswanas, yang juga merupakan Manajer Peningkatan Kapasitas Lembaga dan Fundraising AKAPe, mengenai pemetaan pala di Fakfak.

Bagaimana sejarah pembentukan AKAPe?

AKAPe dibentuk di tahun 2015 atas dasar inisiatif perkumpulan NGO lokal. Awalnya kami hanya tujuh orang, namun bertumbuh menjadi 20 orang di tahun 2016. Kami berfokus kepada kebutuhan-kebutuhan masyarakat adat, seperti hal-hal yang terkait dengan pelestarian lingkungan atau pun potensi unggulan-unggulan yang ada di daerah. Kami ingin menampilkan hal-hal dari konteks lokal supaya bisa diketahui oleh banyak orang. Pada akhirnya, kami ingin menjadi lembaga penelitian lokal Fakfak yang berfokus kepada semua aspek dari masyarakat adat. Selain pala, kami melakukan pendampingan petani yang berhubungan dengan penanaman pangan lokal seperti keladi, singkong, ubi, pisang, dan juga tanaman hortikultura seperti cabe, tomat, kangkung, sawi, kacang tanah, kacang panjang dan jenis sayur lainnya.

Bagaimana respon dari petani pala yang sudah mengikuti program pemetaan?

Para petani sangat bangga dan senang dengan adanya program pemetaan, karena melalui peta petani bisa mengetahui bentuk lahan mereka seperti apa. Mereka juga lebih mengerti caranya bagaimana harus menjaga dan merawat lahan mereka. Dari awal dimulai proses pemetaan berlangsung, persepsi petani-petani terhadap proses pemetaan itu sudah mulai berubah. Para petani sekarang lebih mau bekerja sama dengan lembaga-lembaga swadaya masyarakat. Namun beberapa petani masih agak sensitif terhadap pemetaan pala.

Bisa diceritakan sedikit mengenai pendampingan petani pala perempuan yang akan dilakukan?

Saya sempat aktif beberapa tahun di isu hak perempuan sebelum bergabung dengan AKAPe. Berdasarkan pengalaman yang lalu, saya akan berusaha untuk mendampingi beberapa kelompok petani pala di Fakfak yang isinya ibu-ibu rumah tangga. Petani-petani tersebut selain memanen pala, mereka pun memroses dan melakukan pemaketan produk-produk pala. Namun, sangat miris jika mendengar cerita mereka mengenai pendapatan dari produk yang mereka buat. Mereka tidak mendapatkan hasil yang adil dari jerih payahnya. Semoga tahun ini saya bisa fokus untuk membantu petani-petani tersebut. Saya meminta kepercayaan mereka untuk mencari bantuan dari luar yang bisa membantu untuk memfasilitasi kelompok tersebut.

Apakah target AKAPe untuk tahun ini?

Kami menargetkan untuk memetakan 20 desa, kalau bisa kami mencapainya sebelum waktu yang ditetapkan.

Semoga AKAPe bisa sukses mencapai target nya di tahun ini!